Pesugihan Kandang Bubrah
“Kau tahu siapa aku, anak muda. Kau sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang. Persembahanmu?”
Arif dengan tangan gemetar membuka tas kecilnya. Dia mengeluarkan bunga setaman, minyak fambo dan kemenyan madu, lalu meletakkannya di atas altar. Bau anyir semakin kuat, membuat Arif hampir muntah.
Mbah Niah menatap persembahan itu dengan puas. “Kekayaan yang kau inginkan ada di depan matamu. Tapi ingat, setiap pintu yang kau buka, harus ditutup dengan darah.”