KUBUAT KAU MENGEMIS CINTAKU
Aku duduk pada tepi ranjang dan menatapnya.
“Kamu mimpi apa, Mas? Sampai keringatan begitu?” pancingku. Meskipun sudah jelas aku mendengarnya memanggil nama Mbak Diva, tetapi aku hanya ingin mendengar jawaban dari versinya.
“Ahm, itu … b--bukan apa-apa. Hanya mimpi lari, ya, lari.” Dia menjawab tanpa menatap manik mataku. Aku tahu, dia tak mau menceritakannya.