Ada momen dalam hidup di mana rasa kehilangan begitu dalam, seperti ada bagian dari diri yang turut pergi bersama mereka. Salah satu cara yang pernah membantu saya adalah dengan membiarkan diri merasakan semua emosi itu sepenuhnya—tidak buru-buru 'move on' atau berpura-pura kuat. Menulis surat untuk orang yang sudah tiada, mengunjungi tempat yang pernah dikunjungi bersama, atau sekadar berbicara pada foto mereka bisa menjadi katarsis.
Lambat laun, saya mulai menemukan cara untuk 'membawa' mereka dalam hidup saya dengan berbeda: merawat tanaman favorit mereka, melanjutkan hobi yang dulu sering dilakukan bersama, atau bahkan membuat proyek kreatif sebagai penghormatan. Rasa sakit itu tidak benar-benar hilang, tapi berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut, seperti suara latar dalam musik hidup.