Ada satu momen dalam 'The Book Thief' yang selalu membuatku merinding—ketika Liesel kehilangan Rudy. Markus Zusak menggambarkan kesedihan itu bukan dengan tangisan meluap, tapi lewat detil kecil: Liesel memeluk tubuh Rudy yang dingin dan memberinya ciuman yang tak pernah ia berikan saat Rudy masih hidup. Itulah kekuatan sastra, kan? Kehilangan seringkali diwakili oleh hal-hal yang 'tidak terkatakan'. Aku suka bagaimana novel-novel bagus memperlihatkan proses berduka yang unik untuk tiap karakter. Ada yang seperti Harry Potter—marah dan memberontak setelah Sirius Black wafat. Ada yang seperti di 'Norwegian Wood', di mana Toru justru menjadi lebih sunyi, seolah-olah kehilangan adalah bahasa yang hanya dimengerti oleh keheningan.
Yang menarik, beberapa karya malah menggunakan metafora kreatif. Di 'A Monster Calls', Connor tidak hanya berduka atas ibunya yang sakit, tapi juga berperang dengan monster mimpi yang mewakili rasa bersalahnya. Justru saat kita melihat karakter 'tidak normal' dalam menghadapi kehilangan, kita menemukan kedalaman manusiawi mereka. Aku sendiri sering terharu pada karakter-karakter yang memilih untuk 'hidup demi orang yang telah pergi', seperti di 'Klara and the Sun'—seolah-olah cinta itu bisa mengubah kehilangan menjadi sebuah tindakan kreatif.