Pembalasan Sang Dokter Jenius
“Gila! Enak banget! Beda sama yang biasa!”
Rani membuka matanya dan tertawa kecil. “Sudah kubilang, kan? Tangan Mas Joko itu beda.”
“Beda gimana?! Ini bukan beda lagi, ini levelnya udah surgawi!” seru Ika, suaranya naik beberapa oktaf, benar-benar mengabaikan etika kesunyian kantor. “Rasa kopinya kuat tapi lembut, manisnya pas, susunya creamy tapi nggak bikin enek! Ini… ini sempurna!”