Sang Maharaja yang Terlupa
Bukan untuk tahta, tapi untuk ibu dan anak itu, untuk semua wajah lelah yang mendambakan kedamaian.
Sesampainya di balai utama—sebuah bangunan terbuka beratap ijuk yang didukung oleh pilar-pilar kayu ulin raksasa—terdapat sebuah batu hitam besar setinggi dada manusia di tengahnya. Permukaan batu itu kasar, dipenuhi lumut perak yang berkilau aneh. Sekeliling batu, terdapat bekas-bekas gosongan hitam, seolah-olah pernah ada tangan yang hangus terbakar di sana.
"Sentuhlah," perintah Pak Prabu, suaranya rendah namun penuh tekanan. "Letakkan tangan kananmu, tangan yang bertanda itu, di atas batu."
Bab Populer