Dia, Adnan.
Biarpun orang lain memandang sosoknya berbeda, merendahkannya, tetapi aku hanya bisa beryukur dan terus bersyukur memilikinya.
"Hei! Kok malah melamun sih? Kamu kangen, ya?"
Aku terkesiap saat mendengar suara seseorang yang bertanya di samping tubuhku.
"Eh, bunda. Iya, aku kangen banget." Jawabku agak parau. Tak terasa air mataku mengalir di tengah lamunan yang bahkan tak ku sadari.
"Sini peluk bunda, sayang. Siapa tahu sedikit mengobati rasa kangennya."
Bab Populer