Menulis Ulang Takdir
Di bawah, ia hanya mengenakan celana dalam tipis yang dilapisi legging warna kulit yang sangat ketat, memberikan ilusi visual seolah ia tidak mengenakan apa pun di bawah sana.
William tidak lagi membutuhkan kata-kata untuk mengekspresikan badai yang mengamuk di dalam dadanya. Pikirannya dipenuhi oleh gambaran Lyra yang tertawa lepas bersama pria lain, sebuah kilas balik yang terasa seperti duri yang menusuk harga dirinya.
Baginya, setiap inci keberadaan Lyra, dari tawa renyahnya hingga keindahan tubuhnya yang terbungkus legging warna kulit yang provokatif itu, adalah wilayah terlarang bagi mata selain miliknya.