KUBUAT KAU MENGEMIS CINTAKU
Aku mendelik, otakku sudah kembali rusak moodnya gara-gara ucapan dia.
“Ngapain Bang Iqbal ngajak ke pasar malam, gak elit banget, sih. Malu-maluin keluarga. Kalau kamu mau, saya bisa ajak kamu ke mall. Belanjanya bisa lebih puas, barangnya bagus-bagus.” Sontak lidah tak bertulang ini menyela.
“Oh itu … kebetulan memang gak buat belanja, sih. Dia cuma ngajak saya naik bianglala sama makan kebab, kok. Jadi, gak akan dia malu-maluin keluarga.”