Desahan Dikamar Tamu
Senyuman di bibir Iren seakan memancing amarah, tapi sekuat hati kutahan agar tak keluar.
"Maaf! Maaf aja yang kamu tau! Kapan sih, kamu itu berguna sedikit aja! Dasar benalu, nggak tau diri!" Ya Tuhan ... Sakit sekali.
Aku menelan cairan dalam mulut yang terasa pahit. Hati mengutuk ucapan Ibu suamiku itu barusan. Ingin rasanya menyumpahi, dan berteriak memaki perempuan yang telah bertaruh nyawa melahirkan ayah dari anakku itu. Maafkan aku Tuhan ... kerana mengutuk perbuatan Ibu. Aku ini hanyalah manusia biasa, yang punya hati dan perasaan.