Mahkota Darah Sang Permaisuri Yang Terbuang
Tangan besarnya yang hangat bergerak menangkup wajah cantik sang Permaisuri, mengangkat dagunya agar sepasang mata giok hitam milik gadis itu menatap langsung ke dalam manik matanya.
"Tidak peduli topeng apa yang mereka kenakan, atau trik kotor apa yang mereka bawa dari padang rumput utara, Rubah Kecil," ucap Chu Canglan, suaranya berat, dalam, dan dipenuhi oleh nada posesif yang absolut. Pria itu menundukkan wajahnya, menempelkan kening mereka bersama seiring napasnya yang hangat berembus di wajah Qingge. "Takhta Kekaisaran Yan, seluruh wilayah negeri ini, dan setiap jengkal dari jiwaku... hanya milikmu seutuhnya. Tidak akan ada satu pun wanita di bawah kolong langit ini yang diizinkan untu
الفصول الرائجة