Dicerai Karena Mandul
Walau sakit dan perih bekas luka yang dialami, tak masalah asalkan ketika pulang nanti, dirinya sudah lebih baik menerima takdir hitam yang masih menaunginya.
Sedikit demi sedikit, serpihan luka itu sudah terlepas. Manusiawi rasanya jika Kala masih menangis mengingat dua belas tahun pernikahannya. Itu bukan waktu yang singkat untuk segera melupakan segala kenangan yang tercipta, entah baik atau buruk. Kala mengerti, ia memang harus bertemu Janu pada akhirnya. Setelahnya, ia yakin keping itu sudah terkelupas tanpa sisa. Dirinya hanya tinggal memperkuat hati juga air mata.
"Iya, Bu."