Adik Pacarku yang Manis
Sarah pun terengah dengan manja, kedua tangannya melingkari leherku, tubuhnya naik-turun mengikuti ritme gerakanku.
“Kakak… Kakak ipar, kamu hebat sekali… ah…”
Mataku terpaku pada bibir mungilnya yang merah. Bibir itu terbuka sedikit, mengeluarkan suara-suara yang sudah tak lagi berbentuk kata. Aku tak tahan, dan langsung menunduk mencium bibir merah itu. Dia tampak semakin terangsang, tangannya mencengkeram leherku dengan erat. Tubuhnya bagaikan perahu kecil yang terombang-ambing naik turun di tengah badai, seperti tanaman parasit yang bergelayut pada pohon besar di tengah hujan deras. Dia melekat erat padaku, kedua kakinya mengait kuat di pinggangku.