Salju Turun, Kita Tak Menua
Di hari ulang tahun pernikahan kami, pada saat ledakan terjadi di aula, Kenan malah menyelamatkan cinta lamanya yang datang untuk menantangnya.
Sedangkan aku tidak di sana karena sedang melakukan operasi darurat.
Saat aku kembali bertemu Kenan, ia sudah menjadi sosok yang berlumuran darah dan tak sadarkan diri di atas meja operasi.
Setelah kejadian itu, ada yang bertanya mengapa ia rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan orang yang tak ada hubungannya dengannya.
“Karena istriku adalah malaikat berbaju putih yang menyelamatkan nyawa. Dia pasti tidak akan menyukai pria pengecut.”
Orang-orang pun terharu mendengarnya.
Namun di saat ia paling mencintaiku, aku memilih mundur dalam diam, pergi tanpa suara.
Sebulan kemudian, di upacara pelepasan tim medis internasional, seorang wartawan mewawancaraiku. “Dokter Jennie, apa hal yang paling tidak sesali dalam perjalanan karier Anda?”
Aku menatap kamera dan menjawab dengan tenang, “Meski tahu suamiku menahan gelombang ledakan demi cinta lamanya, aku tetap berdiri di meja operasi dan menyambung kembali tulang-tulangnya yang patah dengan tanganku sendiri.”