Menantu yang Baik
"Aku ingat kamu suka kue basah tradisional di sini, bagaimana kalau aku membawanya..."
Aku duduk di tepi ranjang, membelakangi pintu kamar. Aku menanggapi perkataan suamiku dengan penuh konsentrasi, sambil berpikir bagaimana mengakhiri panggilan telepon ini.
"Boleh saja, kecuali yang isinya kuning telur asin dan abon…"
Tepat pada saat ini, aku merasakan gerakan halus di belakangku dan bayangan yang nyaris tak terasa jatuh di bahuku.