Pembalasan Sang Dokter Jenius
Malam itu juga, jauh dari gemerlap lampu Jakarta yang menipu, di sebuah lereng terpencil Gunung Lawu yang diselimuti kabut abadi, sebuah padepokan kuno berdiri dalam keheningan yang agung. Bangunannya tidak megah, hanya terbuat dari kayu jati tua yang telah menghitam karena waktu dan cuaca, atapnya dari ijuk, dan pondasinya dari batu-batu sungai yang kokoh berlumut. Tidak ada listrik di sini, hanya cahaya remang dari beberapa obor dan lampu minyak yang berkedip-kedip, cahayanya seolah ditelan oleh kegelapan pekat hutan di sekelilingnya. Udara di sini tipis, dingin, dan terasa begitu murni, dipenuhi oleh aroma tanah basah, dupa, dan bunga-bunga liar yang hanya mekar di malam hari.