Ada satu peta tua yang sering kubuka ketika mencoba memahami Lawu, penuh coretan tangan dan catatan tentang candi-candi kecil di lerengnya.
Aku suka menggali hubungan antara sisa-sisa arkeologi dan cerita lisan; di lereng Lawu ada jejak Candi Sukuh dan Candi Cetho yang menunjukkan pengaruh Hindu-Buddha akhir abad ke-15, tapi di antara batu-bata tua itu juga ada tradisi lokal yang lebih tua lagi — kepercayaan akan roh penjaga gunung dan titik-titik sakral yang disebut punden. Catatan kolonial dan jurnal penjelajah memang memberi gambaran luar, tapi yang paling hidup adalah percakapan dengan tetua desa: mereka menyebut sosok-sosok yang menjaga sumber air, kubangan, dan jalan setapak, plus ritual sederhana yang masih dilakukan untuk minta keselamatan pendakian.
Pantangan yang kubaca berulang kali bukan sekadar takhayul; ada aturan sosial yang kuat: jangan sembarangan mengambil batu atau bunga dari situs, jangan membuang sampah, dan jangan merusak altar sesajen. Beberapa larangan lebih spesifik — misalnya sopan santun di sekitar makam atau pura, memakai pakaian yang rapi saat memasuki area sakral, dan menghindari tindakan yang dianggap menghina roh. Dari sisi historis, pantangan ini sering kali melindungi tempat suci dari perusakan dan menjaga keseimbangan lingkungan. Bagi aku yang senang mengumpulkan arsip dan mendengar kisah lokal, Lawu terasa seperti lapisan-lapisan cerita yang saling menempel: mitos, agama, adat, dan kepentingan ekologis, semua bercampur jadi satu, membuat setiap pendakian terasa seperti menapaki perpaduan sejarah dan kehidupan masyarakat sekarang.