Antara Ambisi dan Cinta
“Minum ini dulu, baru kamu boleh ngobrol atau jalan-jalan.”
Elara sempat tertawa kecil. “Aku enggak berencana jalan-jalan, Mas. Aku bahkan masih bingung… ini di daerah mana, kota apa dan bagaimana kamu sebenarnya .…”
Kata-kata itu menusuk dada Alvaro. Ia buru-buru menggenggam tangan Elara, menatap dalam. “Dengar aku baik-baik, Elara. Kita tinggal di Jakarta, kamu istriku. Aku suamimu. Itu saja yang perlu kamu ingat sekarang.”