Gairah ibu mertua dalam hubungan keluarga itu seperti rempah-rempah dalam masakan—bisa bikin hidangannya jadi lebih kaya rasa atau justru terlalu overwhelming kalau kebanyakan. Dari pengamatanku, dinamika ini sering bergantung pada seberapa baik ibu mertua bisa menemukan perannya yang pas. Ada yang jadi 'penyemangat' dengan memberikan dukungan tanpa mencampuri, seperti kasus temanku yang ibunya selalu bantu jaga anak tanpa kritik soal pola asuh. Tapi ada juga yang malah jadi 'direktur lapangan', mengatur segala hal mulai dari menu makan malam sampai warna cat dinding.
Yang menarik, konflik biasanya muncul ketika batasan kabur. Misalnya, ibu mertua yang terlalu bersemangat 'membantu' keuangan sampai merasa berhak ikut menentukan pembelian rumah. Di sisi lain, ada juga cerita heartwarming tentang janda tua yang akhirnya menemukan makna baru dalam hidup dengan menjadi 'nenek super' yang mengajari cucu-cucunya memasak sambil menjaga jarak sehat dari urusan rumah tangga anaknya. Kuncinya mungkin ada di komunikasi tiga arah: suami/istri, pasangan, dan ibu mertua harus punya pemahaman bersama tentang batasan emosional dan praktis.