Matahari sore di antara pepohonan selalu mengingatkanku bahwa alam bicara dengan bahasa yang tenang.
Aku sering menyimpan beberapa kalimat sederhana yang menempel di kepala setiap kali berjalan melewati hutan atau pantai: ‘‘Bumi tidak mewariskan kepada kita dari nenek moyang, kita meminjamnya dari anak cucu’’. Itu bukan sekadar kata indah, melainkan tuntunan—cara memandang tanggung jawab. Selain itu aku suka mengulang, dalam hati, bahwa manusia itu bagian dari rantai kehidupan, bukan penguasa di atasnya. Ketika angin membawa aroma tanah basah, kupikir tentang betapa kecilnya ego kita dibandingkan ritme alam.
Kutipan-kutipan seperti ini membantu aku menenangkan diri saat hidup terasa cepat dan penuh tuntutan. Menjaga alam sama dengan menjaga warisan moral buat generasi berikutnya; itu hal yang terasa sederhana namun berat kalau tidak dimulai dari kebiasaan kecil. Aku pulang dari jalan setapak dengan rasa syukur tiap kali, dan selalu berusaha membawa kembali sikap hormat itu ke kehidupan sehari-hariku.