MAIN HATI
“Ingat pesan Ayah, Nak. Kau baru akan benar-benar memiliki, ketika bukan hanya raganya saja yang bersamamu, tapi juga hatinya.”
“Baik, Ayah. Aku mengerti.” Kuanggukkan kepala, tanpa ada lagi tangisan yang menetes di pipi.
Ray memelukku, bahkan sebelum aku tiba di depannya. Dia mendatangiku lebih dulu. “Jangan cengeng. Suamimu itu pria hebat. Pilihan orang tua kita tidak pernah salah. Aku turut bahagia untukmu, Lila.”
Aku meninju pelan salah satu pundaknya. “Jangan cepat-cepat menyusulku. Hutangmu untuk jadi penerus belum terlaksana dengan baik. Kau mengerti?”
Hot Chapters