Pijatan Nikmat Sang CEO
Di dunia yang terobsesi dengan status dan kekayaan, Arissa tetap teguh pada prinsipnya bahwa kebahagiaan sejati berasal dari dalam.
"Aku membayangkan sebuah rumah," kata Arissa tiba-tiba, matanya menerawang. "Tidak perlu besar, tapi cukup nyaman untuk kita berdua. Mungkin dengan teras kecil menghadap gunung atau pantai. Tempat di mana kita bisa menikmati matahari terbit dengan secangkir kopi, atau matahari terbenam dengan segelas anggur. Tempat di mana kita bisa mendengar suara alam, bukan klakson mobil atau deru keramaian kota."
Nathaniel menutup mata, mencoba membayangkan kehidupan yang digambarkan Arissa. Ia bisa melihatnya—kedamaian yang selama ini tidak pernah ia rasakan, ketenangan yan