KEMBALINYA SANG RATU
ujarnya dengan lirih namun tegas, "melainkan menanam benih perdamaian. Tanah kami, meski keras oleh zaman dan konflik, tetap berusaha mengajarkan arti hidup yang sederhana. Setiap benih yang kami tanam adalah doa agar dunia ini tak selalu diliputi oleh perang."
Lintang mendengarkan seolah setiap kata adalah puisi yang dituliskan oleh alam. Ia mencatat dengan cermat, meresapi nada-nada yang mengalir seperti irama gamelan yang memanggil jiwa-jiwa untuk bersatu. Di antara petani itu, ia merasakan keikhlasan yang begitu murni, sebuah bahasa hati yang tak memerlukan terjemahan. Petani-petani itu berkata tentang tanah yang menyerap kesedihan dan mengeluarkan kedamaian, tentang bagaimana setiap mus