Salah Sistem! Aku Satu-satunya Murid Pria di Akademi Wanita
"Lalu, sebagai tindakan pencegahan ekstra untuk merusak skenario satpammu, aku menancapkan tiga paku beton ke dalam lubang gembok cadangan di pintu darurat luar. Gembok itu macet total. Tidak bisa dibuka pakai kunci master sekalipun."
Wajah Siska berubah seputih kertas. Darahnya seolah merosot turun ke telapak kaki. Dia melirik ngeri ke arah pintu besi di ujung ruangan.
"Itu artinya, kalau satpam mendengar teriakanmu, mereka harus memutar jauh melewati gedung utama, turun ke taman belakang, dan memanjat pagar sayap barat. Butuh waktu minimal lima belas menit berlari kencang. Bukan dua menit," cibir Dimas. "Kau punya waktu lima belas menit untuk meratapi kebodohanmu di ruangan ini bersamaku."