Bastard Sister
Duduk merapatkan kedua kakiku, diapit oleh kedua laki-laki tersebut.
“Emang begitu kalau emosi, Bang Freng. Nggak apa-apalah. Biar mbaknya lega,” ujar seorang polisi berjaket kulit hitam dengan rambut gondrong ikal sebahu kepada kami. Polisi yang kuduga sebagai buser tersebut duduk di seberang kami bersama kedua rekannya yang lain. Penampilan mereka bertiga sama seramnya. Kalau sekilas melihat, tampak bagaikan penjahat atau residivis.
“Harap maklumlah ya, Bang Endi. Namanya juga cewek. Mudah baper.” Pak Frengky yang duduk di sebelah kiriku tertawa kecil. Sedang aku hanya diam sambil membuang muka dari mereka semua.
Bab Populer