Ada beberapa petunjuk kuat yang biasanya kulekati saat mencoba membuktikan bahwa puisi berjudul 'aku' memang karya penyair tertentu.
Pertama, naskah asli atau manuskrip sangat menentukan: coretan tangan, koreksi, tinta, jenis kertas, dan tanda-tanda marginalia (catatan kecil di pinggir) sering kali jadi bukti langsung. Jika ada surat atau draf yang menunjukkan proses kreatif—misalnya versi awal berisi baris berbeda yang kemudian diedit—itu menambah kredibilitas. Catatan penerbit atau tanggal terbit pada edisi pertama juga penting; hubungan langsung dengan penerbit yang dikenal menerbitkan karya penyair itu memperkuat klaim kepemilikan.
Kedua, analisis gaya membantu mendukung klaim: pola rima, pilihan diksi, metafora khas, ritme kalimat, dan tema yang berulang bisa berfungsi seperti sidik jari. Selain itu, rujukan kontemporer—ulasan lama di koran, catatan teman seangkatan, atau catatan penampilan publik ketika penyair membacakan puisi tersebut—menjadi potongan bukti yang saling menguatkan. Semua ini lebih meyakinkan kalau ditemui bersamaan: manuskrip, bukti penerbitan, dukungan saksi, dan kecocokan gaya. Dari pengalamanku menelusuri puisi, kombinasi bukti teknis dan konteks sejarah yang saling cocok biasanya yang membuat klaim kepengarangan terasa kredibel dan tahan banting saat diperdebatkan.