King of Trouble
Rantai di pergelangan kakinya berderak ketika ia kembali meronta, berusaha keras melepaskan diri.
“Dasar… iblis…” bisiknya dengan suara serak. Ia menunduk, air mata menetes jatuh ke sprei hitam ranjang itu. Tapi air mata itu bukan kelemahan—itu amarah.
Di luar kamar, Edward berdiri diam beberapa detik, punggungnya menempel pada pintu. Matanya terpejam, rahangnya mengeras. Tangannya mengepal sampai buku jarinya memutih. Edward akhirnya membuka mata. Tatapannya dingin, menusuk, tapi di balik itu ada sesuatu yang lebih.
Bab Populer