Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku
Hanya karena aku membuka jendela untuk mengangin-anginkan ruangan, sahabat masa kecil suamiku terserang flu.
Dalam murka yang memuncak, suamiku langsung memerintahkan orang-orangnya untuk mengikat dan membawaku yang sedang hamil ke dalam gudang es.
"Jangan pikir kamu bisa seenaknya membuli Aruni hanya karena kamu mengandung anakku."
"Kalau satu helai rambutnya pun terluka, aku akan membalasnya seratus kali lipat padamu!"
Tubuhku menggigil hebat. Sambil menangis, aku berlutut di hadapannya, memohon maaf, dan berjanji akan setia melayani sahabat masa kecilnya itu sebagai tebusan, tidak akan membiarkan wanita itu terluka sedikit pun.
Namun dengan dingin, ia memerintahkan pintu gudang es itu ditutup, berkata bahwa ia ingin memberiku pelajaran yang akan terukir seumur hidup.
Seminggu berlalu. Flu kekasih masa kecilnya sudah sembuh. Barulah ia teringat padaku yang masih terkurung di dalam gudang es.
"Reni, apa kamu sudah benar-benar menyesal? Asalkan kamu berjanji akan langsung pergi berlutut meminta maaf pada Aruni, aku akan memaafkanmu."
Namun ia tidak tahu ... di dalam gudang es itu, tubuhku sudah lama membeku.
Begitu pula anak yang ia anggap harta paling berharga. Sudah lama tak ada tanda-tanda kehidupan ....