Aku Istri yang Tidak Dianggap
Bunda melepaskan gampitan tangannya dariku, menarik satu buah kursi di dekatnya kemudian mempersilahkanku untuk duduk di sana dan menikmati sajian makanan lezat.
“Ayo, Sayang, kita makan dulu!” ajak Bunda, kemudian mengisi piring di depanku dengan dua centong nasi putih, rendang daging dan gulai tunjang. Tidak lupa masing-masing satu sendok sambal hijau dan merahnya. Ah, Bunda tau banget kalau saat ini aku sedang lapar sekali.
“Terima kasih, Bunda,” kataku tersenyum lebar, menghadiahi ibu mertuaku dengan sebuah kecupan di pipi kanannya.