Ada satu hal yang selalu kubahas di forum—bagaimana pembaca membaca motif Nadira sendiri sebagai motor konflik dalam '9 dari Nadira'.
Menurut pengamatan banyak pembaca yang kutemui, dalang utama justru adalah Nadira sendiri, bukan figur bayangan di belakang layar. Ini bukan semata soal tindakan jahat terang-terangan; banyak yang melihat konflik muncul karena keputusan emosional dan trauma masa lalunya yang ditutupi. Di beberapa bab kunci, Nadira mengambil jalan pintas—memanipulasi informasi, memutus hubungan, dan memilih kebohongan demi menjaga citra atau melindungi sesuatu yang dia anggap lebih besar. Langkah-langkah itu, ditambah monolog internalnya yang sering berkontradiksi dengan tingkah laku publik, membuat pembaca curiga bahwa akar masalah ada pada cara dia memaknai dunia.
Ada juga pembaca yang menyatakan bahwa Nadira adalah katalis: tindakan dia memancing reaksi berantai dari karakter lain sehingga konflik jadi membesar. Walau ada tokoh lain yang tampak mengorkestrasi, banyak bukti tekstual menunjukkan keputusan Nadira yang mengawali titik balik paling dramatis. Membaca ulang adegan-adegan kecil—pertemuan tertutup, pesan yang dihapus, kebohongan putih yang berubah menjadi tragedi—membuatku setuju bahwa inti konflik tumbuh dari pilihan pribadinya. Pada akhirnya, menurut banyak pembaca, Nadira bukan sekadar korban atau penjaga rahasia; dia adalah sumbernya, baik karena niat maupun ketidaksengajaan, dan itu yang membuat ceritanya begitu menyakitkan sekaligus magnetis.