DIAMNYA ISTRIKU
ujarku.
Reyhan mendekat. "Coba liat. Mana yang sakit?" tanyanya.
"Sakit di kakiku tidak terlalu parah. Mungkin sebentar lagi juga akan hilang. Tapi saat ini hatiku yang sakit. Sangat sakit! Sakit saat perjuanganku seolah tidak ada harganya. Jangan melulu mengabaikan aku, Mas, aku sakit," lirihku sesenggukan. Memang itu yang sangat aku ingin katakan kepadanya. "Oke kalau begitu. Aku mandi duluan." Bukan membalas ucapanku, justru pria itu malah mengalihkan pembicaraan.