Seribu Pintu Sindukala
Ibunya kembali berdiri.
“Kita ini, hidup sekaligus mati, bukan?”
Tia muncul dari dalam kegelapan di belakang ibunya. Dari ujung bahunya, keluar semacam sulur urat, memanjang dan bergemeretak, membentuk lengan yang tidak proporsional dan gelap, yang sepintas terlihat seperti kaki belalang berkuku tajam. Tia memeluk ibunya dari belakang, menciumi telinga dan leher. Ibunya menoleh kepada sosok itu, memandangnya dari dekat sambil tersenyum. Kedua tangannya terangkat, menyentuh pelukan Tia. Mereka saling mengecup bibir, hingga darah yang menetes dari mata Tia mengotori wajah ibunya. Sepintas, mereka terlihat seperti satu kesatuan, seakan-akan itu adalah dua sosok yang sama.
Bab Populer