MasukTerlahir dari rahim wanita penghibur profesional dan terpaksa hidup berpindah dari satu keluarga ke lain keluarga, menorehkan masa kecil menyakitkan yang membuat Nesa menjadi pribadi dingin dan tak mampu merasakan kehangatan cinta. Namun ia bertekad merubah nasib. Melalui perjuangan panjang yang menyisakan banyak trauma, ia berhasil menjadi pengacara dan akhirnya bertemu Raga, laki-laki yang mampu membuatnya jatuh cinta. Di tengah rencana pernikahan yang sedang mereka rancang, pertemuan kedua keluarga membuat impian mereka berantakan. Tiba-tiba Ibu Nesa dan Ayah Raga menentang pernikahan mereka. Sang Ibu bahkan dengan gamblang menyatakan mereka adik kakak ! Pernyataan yang menghempaskan harapan dan menyibak berbagai rahasia gelap dalam kehidupan mereka.
Lihat lebih banyakHappy Reading.
"Aku pernah berpikir untuk hidup di tempat dimana tak ada seorang pun yang mengenalku. Tapi aku tak pernah menyangka, kalau itu bukanlah angan-angan. Melainkan pengkhianatan!"***PRANGGG!Suara gelas jatuh ke lantai, seorang pria berzirah menghampiri sang Tuan yang disegani seluruh kota."Tidak! jangan bunuh, dia kekasihku!" berlutut, meminta belas kasih sembari meraung-raung di depan Tuannya. "Dia pantas hidup...ja-jangan ambil dia dari saya Tuan!" kepalanya semakin dekat dengan lantai."Sudah, terlambat. Jantungnya, milikku sekarang!""Tidak! Tuan, saya mohon." pria itu menggeleng histeris. Tetapi sang Tuan tak menghiraukannya. berjalan masuk ke dalam kamar pengantin wanitanya.mengetuk pintu.Malam yang harusnya penuh canda tawa. Saat kelopak bunga mawar merah berhamburan dari atas kasur King Size sampai ke lantai. Ditemani cahaya remang-remang dari lilin.Hiksss!Seorang gadis cantik dengan pakaian pengantin justru terdengar menangis ketakutan di sudut tempat tidur.Tok! Tok! Tok!Diikuti suara pintu yang didorong—seseorang tampak masuk secara perlahan ke dalam kamar, kemudian mengunci pintu dengan pelan."Istriku?!" panggilnya. Pria tinggi dengan setelan jas rapi dengan aroma khas itu, duduk di tepi kasur.Mempelai pria.Tapi gadis itu malah semakin gemetaran. Ia bahkan membekap mulutnya dengan kedua tangannya, meski dengan air mata yang terus mengalir dengan derasnya.Pria itu. Jelas mendengarnya. "Mengapa menangis? Apakah aku menyakitimu?" Tatapan elang pria itu menyala di tengah kegelapan. "Kemarilah, jadilah gadis yang baik!"Genetar dengan hebatnya. Gadis itu mencoba melawan rasa takutnya. "Ja-jangan bunuh saya!" pintanya dengan suara yang bergetar dengan hebatnya."Kemarilah, layani suamimu dengan benar!" ujarnya dingin.Gadis itu ragu, tetapi ia tetap mendekat pada suaminya dengan segala harapan kalau ia akan baik-baik saja."Saya akan be-bersikap ba-baik Tu-tuan!"Namun saat gadis itu ada dalam pangkuannya. Pria itu malah tidak terlihat senang."Matilah!""Akhhh, Tu-tuan A-rron….."Brukkk!Satu serangan tepat di jantung. Gadis itu langsung ambruk, bersamaan dengan darah yang bercucuran di lantai malam yang dingin.***Di tempat lain. Kota kecil bernama Achae, kota yang dipenuhi dan diurus oleh makhluk-makhluk Fay—mirip peri namun tanpa kaki, tanpa sayap, hanya melayang dengan berbagai ukuran serta bentuk yang berbeda-beda. Jika terkejut, mereka berubah warna menjadi merah."AKU TIDAK MAU MENIKAHHH!"Contohnya seperti saat ini, suara kuat yang menggelegar dari kediaman yang cukup megah. Membuat para Fay berubah warna menjadi merah.Sang ayah dan ibunya hanya sibuk mengatur jamuan teh dengan aneka camilan di atas meja, dengan senyuman bahagia."Kalian mendengarkan aku atau tidak? Ayahhh, aku tidak mau menikah!""Kenapa tidak? Kau sudah cukup umur untuk menikah!" kata ayah sambil menepuk pundak Damara singkat. Melanjutkan aktivitasnya.Ya. Damara Eos Thasecena. Putri angkat keluarga berkuasa Thasecena yang suka berbuat sesukanya."Ibuuu!""Dia tampan Putriku, ibu yakin kau akan menyukainya.""Bagaimana jika tidak?" Senyuman Damara mengembang sempurna. "Ibu mau membatalkan pernikahanku dan-Nya?" tanya Damara penuh semangat.Tapi ibunya menggeleng. Membuat senyuman Damara layu dengan sendirinya."Mereka datang!"Syok. Damara membulatkan matanya, berbalik melihat ke arah ayahnya yang bersiap-siap untuk menyambut."Yang benar saja, aku baru dapat kabar hari ini. Masa langsung ketemuan hari ini? Apakah ayah dan ibu sakit.""Ganti pakaian sana. Jangan kabur ya!" peringat ibunya sembari tersenyum memperingatkan putrinya yang nakal dengan mata yang menyipit sempurna.Damara kesal, ia menyipitkan matanya. Sambil menoleh ke arah makanan dan teh yang siapkan dengan pikiran liciknya. "Siapa yang mau kabur hm!"Ibu dan ayahnya menyambut dengan penuh sopan santun dan ramah, mempersilahkan 'calon suaminya' itu untuk masuk ke dalam."Silakan…."Namun langkah mereka bertiga berhenti saat sebuah kue krim melayang di wajah sang Tuan muda mereka."DA-MA-RAAA!!!"CRAKKK!!!"Kalau sampai dia menangis, akan ku hancurkan rumah ini dan segala isinya!" Ancam Arron terang-terangan.Seluruh kaca yang ada dalam rumah tersebut retak, tetapi ayahnya menangapi dengan senyuman di sudut bibirnya. Menatap ke arah putri nakal yang tidak akan pernah mungkin untuk menangis."Percayalah, Perkataan Tuan. Adalah harapan kecil, dari putri kami!"DEG!Bersambung….Enam bulan telah berlalu. Namun tak juga ada tanda-tanda Raga akan kembali. Vita berubah menjadi pemurung dan sering duduk diam sendiri di samping jendela di ruang tamunya. Tatapannya kosong menatap gerbang rumah megah yang kini terasa sunyi. Setiap ada yang masuk, matanya berbinar berharap Raga yang datang. Namun tak jua anak kesayangannya yang muncul di depan mata.“Mohon jaga anakku Tuhan.” Kalimat itu tak henti-henti ia ucapkan. Air mata Vita sudah mengering. Namun keyakinan bahwa Raga masih hidup membuat ia tetap memiliki energi untuk bertahan.“Anakku pasti pulang,” lirihnya setiap ingat Raga.Pram pun kini jauh lebih lembut pada Vita. Permintaan Nesa agar Pram mencintai Vita sebagaimana Raga mencintai ibunya, membuat Pram tersentuh. Apalagi melihat betapa sayang Nesa pada istrinya itu.“Papa akan menjaga Mama Vita, Nak,” kata Pram dengan suara bergetar kala suatu hari Vita kembali jatuh sakit dan pingsan.
Waktu terus bergulir. Tak terasa sudah sebulan berlalu. Raga tak juga ditemukan. Nesa dan Vita kini sering bertemu dan saling menguatkan. Vita sangat meyayangi Nesa, calon menantu, gadis kecintaan buah hatinya. Vita mencintai Nesa untuk mengenang cinta Raga pada Nesa.“Mama harap kamu tetap mau bertemu Mama, Sayang,” lirih Vita pada Nesa yang tengah menemani Vita. Sejak Raga menghilang, kesehatan Vita merosot tajam. Saat ini ia bahkan tengah dalam perawatan di sebuah rumah sakit. Nesa mendampingi dengan penuh kasih sayang. Terkadang, bertiga dengan Pram.“Tentu saja, Ma,” sahut Nesa sambil menggenggam tangan Vita. “Aku tidak pernah mencintai orang lain. Mas Raga satu-satunya buatku. Sampai kapan pun aku akan menunggu dia.” Air mata tak terasa merebak di sudut mata Nesa. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia kucurkan sejak Raga menghilang. Upaya Pram mengerahkan orang untuk mencari Raga tak membawa hasil, hingga membuat Vita dan
Raga terbaring tak berdaya. Tubuhnya terasa lumpuh. Entah apa yang dilakukan Kei padanya. Ia merasa tenaganya tak tersisa. Bahkan untuk menggerakkan kaki dan tangan saja ia tak lagi punya daya.“Kei,” lirihnya teringat saat terakhir sebelum berada di ruangan asing itu. “Apa yang kamu lakukan padaku?”Tapi semua sudah terlambat. Raga masuk perangkap. Kei bukanlah gadis seperti yang dibayangkannya. Kei seorang Alpha, terlebih lagi ia juga mengidap skizofrenia.Mata Raga nanar menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Ia tak tahu sedang berada di mana.“Ini bukan penthouse dia,” gumumnya gusar. “Apa yang dia mau dariku?” lirihnya mencoba menggerakkan badan.Raga merasa tubuhnya seperti lumpuh. “Ya Tuhan, Kei, apa yang kamu lakukan?” gumamnya panik. Tak pernah ia merasa begini tak berdaya. “Sial! Kei!” teriaknya dengan suara keras. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya lenguhan berat
Nesa tak bisa tidur. Kabar dari Raga tak kunjung tiba. Matanya sembab. Meski tak pasti tapi Nesa merasa Raga sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya benar-benar merasa lelah. Tiba-tiba ia ingin melaksanakan salat. Sudah teramat lama ia mengabaikan kewajiban lima waktunya. Kini Nesa merasa sangat membutuhkan pegangan. Setelah sekian lama, akhirnya ia terpekur di sepertiga malam di atas sajadah milik nenek yang sejak kecil selalu dibawa. Tumpahan air mata membanjiri wajahnya. Berbagai kenangan terpampang di hadapannya. Kepedihan demi kepedihan yang menyelimuti semua anggota keluarganya membuat Nesa terisak hingga subuh menjelang. “Ampuni hamba ya Allah,” gumamnya disela isak yang tak tertahankan. Setelah itu, baru ia merasakan dadanya lapang. Doa-doa tak lepas ia panjatkan untuk keselamatan Raga dan ora
Pram terdengar menghela napas lega.“Saya segera ke sana,” katanya dengan suara terdengar sungguh-sungguh.Nesa tercenung. “Apa aku tidak salah dengar?” gumamnya. Pikirannya melayang ke sana kemari. Satu sisi hatinya bahagia karena Pram ternyata masih peduli pa
Pertemuan keluarga yang semula untuk saling mengenal calon besan, berubah menjadi pembicaraan kaku dan penuh tekanan. Pram terpaksa harus bersandiwara agar tidak membuat Vita dan Raga curiga. Begitu pula Susan. Ia terlihat sangat berusaha agar tetap bisa mengendalikan diri. Meskipun wajah cantikn
Pagi hari, Pram merasakan semangatnya kembali pulih. Meskipun energinya terkuras karena Susan tak henti-henti membuatnya terbang melayang, tapi ia merasakan jiwanya seakan berada di puncak nirwana. Kebahagiaan semalam yang ditawarkan Susan bena-benar membuat Pram kembali merasakan kehangatan cint
“Perempuan sialan!” Sosok itu berusaha menusukkan pisau ke arah jantung Nesa.Nesa terperanjat. Rudi dan Rudi tak kalah kaget. Mata mereka terbelalak ketika Lee tiba-tiba menerjang Nesa.“Hei! Apa-apaan!” seru Rudi dengan suara keras.Dengan gerakan refle






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak