Red in Us
Katha mengekori Shae sambil menjawab, “Ceritanya agak rumit.”
Kepala Shae menengok ke belakang. “Cih, bisa serumit apa sih, pertengkaran lo sama Rabu kalau belum mencapai soal perasaan?” gumamnya dengan suara tidak jelas. Sengaja dia lakukan begitu. Karena kalau tidak, bisa-bisa Katha mengamuk dan mengulang kata-kata keramatnya : gue sama Rabu cuma sahabat. Cih, basi. Semua orang pun bisa melihat kalau dua sahabat itu sebetulnya terikat satu sama lain dalam perasaan dan hubungan yang bukan lagi persahabatan.
“Ngomong apa lo?” tanya Katha. Dia kini duduk di meja makan, menunggu Shae yang sedang merebus air dengan heater.
Hot Chapters