Istri Nakal Mas Petani
Berayun dengan sangat lembut dan memiliki magnet yang membuat matanya tak beralih.
“Sini,” kata Sully, menarik tangan Wira lebih mendekat ke tepi ranjang. “Aku boleh nyoba yang lain, enggak?” Sully menyentuh ikat pinggang Wira. Pria itu langsung membulatkan mata menatapnya.
“Jangan bercandain Mas. Ini sudah jam delapan, Lis. Mas sudah terlambat,” kata Wira.
“Memangnya ngerjain apa, sih, harus buru-buru? Katanya udah resign. Mas buru-buru karena memang biasanya tepat waktu,” sungut Sully.