Gemintang
nada suara Jivan terdengar begitu tegas—rasanya Sena jarang mendapati sisi anak lelakinya yang seperti ini.
Sena melirik jam digital yang tertempel di dinding, 20.00.
“Kamu belum capek, kan?”
“Belum, Pa,”
“Kita ketemu sama Mamamu plus Om Deva sekarang juga,” Sena meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Jana.
21.00, Excelso...
“Jadi, kamu mau kan, Van?” ujar Jana saat ia sampai.
“Tenang dulu sayang,” Deva menepuk-nepuk pundak Jana.
Bab Populer