Pesan Nyasar Dari Sahabatku
Sibuk mencermati gerak-gerik kedua pasangan yang tengah saling rangkul mesra tersebut.
“Ya, diam aja, dong. Apa hakku untuk menegur mereka?” Kupandangi Wilda sekilas dengan tatapan sinis.
“T-tapi kan, itu suami iparnya Mbak.”
“Lho, kamu lupa, kalau aku benci banget sama iparku itu? Aku nggak suka sama dia! Lagian, yang jadi selingkuhan suaminya itu sahabat dekatnya sendiri, lho. Sahabat yang katanya sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Apa-apa berdua. Ke mana-mana berdua doang. Ingatnya sama sahabatnya itu aja ketimbang kami para ipar.” Aku tersenyum sinis. Merasa puas luar biasa.