Suami Warisan
ujar Rengganis, “ada juga yang teman tapi mesra, tapi mana ada teman yang mesra-mesraan tanpa ada rasa, ya ‘kan? Tetep aja ujung-ujungnya cinta! Jadi, enggak …. Kamu enggak bisa jadi temanku, Naren.”
Narendra mengulum senyumnya dan mengangguk kecil, “Ya, kita tidak pernah bisa jadi teman, Nyai.”
Rengganis terdiam, dia melirik tangan Narendra yang berada di atas persneling. Untuk pertama kalinya dia memerhatikan tangan Narendra dengan saksama. Telapak tangannya yang lebar dan hangat, jarinya yang panjang, urat-urat yang menonjol di kulit punggungnya, terlihat jantan. Tanpa bisa dicegah, Rengganis berpikir sudah berapa wanita yang disentuh oleh tangan ini?