Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Perfect Partner

Perfect Partner

Dia tidak memiliki sesuatu yang bisa dia kerjakan, jadi dia memutuskan untuk pergi ke taman. Ponsel Maevea berdering, itu adalah panggilan dari Emily. “Ya, Emily.” “Nona, jangan datang ke galeri hari ini. Ada begitu banyak orang di sini. Selain itu galeri juga dilempari dengan telur busuk dan tomat busuk. Kami juga tidak bisa masuk ke dalam.”
10122.3K viewsCompletedAdded to Library 4.2K Times as the map of tiny perfect things
Read
+Library
Perfect Secret

Perfect Secret

Pramuniaga tersebut membungkuk kecil setelah menyodorkan belanjaan Richard. Si lelaki kembali keluar dari toko dengan menenteng tas kertas berisi churros dan banoffee pie. Richard tersenyum tipis membayangkan bagaimana reaksi bahagia Kyra saat menerima dua camilan tersebut. Saat hendak memasuki mobil, Richard tanpa sengaja melihat sosok wanita yang begitu familier. Wanita yang seharusnya bisa hidup tenang dari uang yang dia kirimkan selama ini, ternyata sedang membersihkan guguran daun-daun berserakan di jalanan.
103.9K viewsOngoingAdded to Library 84 Times as the map of tiny perfect things
Read
+Library
🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER

🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER

Entah kenapa, firasat buruk tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia akhirnya meraih map tersebut dan membukanya. Beberapa lembar foto Summer tersusun rapi di dalamnya. Satu demi satu foto itu berpindah ke tangannya sampai akhirnya ia mengangkat lembar terakhir dan menemukan sebuah kartu kecil yang terselip di bagian paling bawah. Tak ada nama, tak ada tanda tangan, hanya satu kalimat pendek yang ditulis dengan tinta hitam.
10711 viewsOngoingAdded to Library 22 Times as the map of tiny perfect things
Read
+Library
Penguasa Hati

Penguasa Hati

tanyaku, berusaha terdengar acuh tak acuh. Dia tidak menjawab. Tangannya bergerak masuk ke dalam jaketnya dan mengeluarkan sebuah map cokelat tipis. Map yang terlihat biasa saja, tetapi di tangannya, benda tersebut seolah memiliki bobot seberat dunia. Thud. Dia meletakkannya di atas meja yang baru saja kulap. Suara pelan tersebut terdengar seperti ledakan di telingaku. Aku menatap map tersebut, lalu beralih ke wajahnya, mencari jawaban.
103.5K viewsCompletedAdded to Library 139 Times as the map of tiny perfect things
Read
+Library
Perfect You

Perfect You

jawab Freya. Dita langsung membuka laci mejanya dan memberikan sebuah map berwarna biru pada Freya. “Ini yang kau butuhkan”, kata Dita. “Terimakasih. Dan terimakasih untuk apartemen itu, tempat itu sangat nyaman”, ucap Freya. “Benarkah?” kata Dita. Freya mengangguk. “Kalau ada waktu luang, menginaplah di tempatku. Kita bisa menonton film bersama”, ucap Freya.
104.5K viewsOngoingAdded to Library 102 Times as the map of tiny perfect things
Read
+Library
Perfect Melody

Perfect Melody

Laki-laki itu tetap melanjutkan menekan tuts piano. Instrumen piano dari lagu milik Christina Perri berjudul A Thousand Years menerbitkan seulas senyum cantik Stevia. Tidak disangka-sangka bahwa Raden pintar bermain piano. “Aduh, refleks jatuh cinta.” Seusai permainan selesai. Stevia menghampiri Raden yang tampak terkejut atas kehadirannya. “Lo jago main piano?” tanya Stevia.
1.6K viewsOngoingAdded to Library 59 Times as the map of tiny perfect things
Read
+Library
A Perfect Hollow

A Perfect Hollow

Enam bulan sebelumnya Perempuan berambut pirang itu mendesahkan rayuan provokatif saat lelaki di belakang tubuhnya menyusun bubuk kenikmatan, memanjang dari punggung ke pantatnya yang bulat. Seperti seorang OCD yang membuat barisan rapi tipis bubuk putih. Tak lama kemudian, laki-laki itu menyesap semuanya dalam sekali isap dengan lintingan uang kertas lewat hidungnya. Lelaki itu merasakan sensasi sengatan yang sangat dikenalnya; menusuk, menekan kepalanya, lalu memberikan sensasi melayang yang menyenangkan. Setelah itu, mulutnya melolong penuh kemenangan.
106.8K viewsOngoingAdded to Library 264 Times as the map of tiny perfect things
Read
+Library
Perfect Partner

Perfect Partner

Tentu saja itu membuat Flavia membulatkan matanya. “Bi, kenapa tidak ada sofanya?” Flavia merasa bingung kenapa Bian memesan kamar yang kecil. Harusnya minimal kamar ukuran besar dengan sofa di dalamnya. “Sedang penuh, jadi hanya tersisa ini.” Bian masuk dan meletakkan tasnya di atas meja. “Lalu kamu tidur di mana?” Flavia menatap Bian. “Di sana.” Bian menunjuk ke tempat tidur.
1017.6K viewsCompletedAdded to Library 632 Times as the map of tiny perfect things
Read
+Library
PREV
1234
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status