Saya sudah membaca "Predatory Marriage" dua kali, dan saya merasa akhir ceritanya cukup memuaskan, meskipun sedikit pahit. Kisah cinta kelam antara Byeon Kyung-ja dan Raja Krunel ini berakhir dengan pengorbanan besar demi perdamaian kerajaan. Di bab terakhir, Kyung-ja akhirnya menerima perasaannya yang sebenarnya setelah perjuangan panjang, sementara Krunel menunjukkan kelembutan yang langka. Mereka memutuskan untuk memerintah bersama, masing-masing dengan cara unik mereka sendiri—sebuah gaya yang memadukan kebrutalan dengan kelembutan. Kisah ini diakhiri dengan keduanya duduk di atas takhta, berlatar belakang kerajaan yang sedang pulih dari perang saudara. Menariknya, penulis menyertakan epilog singkat yang merinci kehidupan sehari-hari mereka sebagai pasangan penguasa, menambahkan sentuhan humor gelap yang sesuai dengan nada cerita.
Yang istimewa dari akhir cerita ini adalah dinamika pasangan yang kuat ini berlanjut di sepanjang cerita. Tidak ada perubahan karakter yang drastis, hanya perkembangan alami antara kedua karakter, yang masing-masing mengimbangi kekurangan mereka sendiri. Bagi penggemar kisah cinta kelam, akhir cerita ini memberikan keseimbangan sempurna antara kepuasan emosional dan koherensi karakter. Saya terutama menyukai detail simbolis di mana mahkota Kyoko yang awalnya hancur akhirnya diperbaiki dengan emas dari cincin Krunel – representasi sempurna dari hubungan mereka.