Ibu, Jangan Tinggalkan Kami
Beberapa kali aku menelepon dan mengirim pesan pada Ibu, tetapi ponsel Ibu tidak aktif.
Amarah mulai menguasai, dada ini terasa sesak. Janji akan mentransfer uang, hanya janji semata.
"Mbak Sinar." Dewa menarik kausku. "Mau cilok, mau jajan ...." rengeknya.
"Bentar ya, tunggu Ibu," sahutku, mengusap kepalanya dengan lembut.