Pernikahan Penuh Luka
“Kamu Aisyah,pintar. Baiklah, aku tidak ingin berpura-pura. Mas Bara semakin jauh dari kamu.Kamu juga merasakannya, kan?”
Dadaku berdegup kencang. “Apa maumu?”
“Aku hanya ingin jujur,” katanya lembut. “Aku nyaman dengan Mas Bara. Sangat nyaman.”
Aku tertawa pelan. “Kenyamanan tidak selalu berarti benar.”
Bela bangkit dan mendekat. “Dalam pernikahan, yang bertahan bukan kebenaran, tapi siapa yang dipilih.”
Aku menatapnya tanpa gentar. “Aku istrinya.”