Suami Adikku Memuja Rahimku
tanyanya tiba-tiba.
"Dua puluh tiga tahun. Saya sudah dewasa secara hukum, Pak," jawabku sambil melirik gelas anggur, mencoba terdengar berani meski nyaliku menciut.
Mahesa tertawa kecil, bukan tawa mengejek, melainkan tawa seseorang yang melihat sesuatu yang lucu namun getir. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatapku dengan binar yang lebih santai.