Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
"Masih kencang, masih fresh. Ya iyalah ya, namanya juga masih usia... berapa Jeng? Dua puluh dua?"
"Dua puluh tiga, Bu," koreksiku pelan, meletakkan cangkirku di tatakan dengan bunyi ting yang hati-hati.
"Ah, dua puluh tiga," Bu Hesti mengangguk-angguk, lalu menoleh pada ibu-ibu lain. "Seumuran sama anak bungsu saya yang baru lulus kuliah tuh. Beda nasib aja ya."
Tawa sopan namun menusuk terdengar di sekeliling meja bundar.