Istri Lima Belas Ribu
Gelak tawa membahana, menyambut candaan dari salah satu perempuan yang kira-kira ada sepuluhan orang itu.
“Bukan begitu, Jeng … kita ngirit, biar gak keluar banyak biaya aja waktu nikahan … kan lumayan, habis itu uangnya bisa buat kasih makan aku yang enak-enak, sama baju yang baus-bagus …” Anti menyahut, terasa menusuk sekali sindiran yang ia beri untukku. Sementara yang lain, kembali tertawa, karena tidak paham, apa maksud sebbenarnya dari perkataan wanita itu.
“Aku ke belakang dulu,, ya?” Pamitku karena sudah tidak tahan menahan sesak dalam dada. Air mata seolah ingin tumpah. Sebagai lelaki, diriku termasuk orang yang cengeng.
الفصول الرائجة