Membalas Mertua dan Suamiku
“Tiap bulan aku beri kamu uang. Pakai saja uang itu untuk membeli makan. Apa susahnya beli lebih?”
“Bang, harga sebungkusnya saja delapan belas ribu rupiah, sedangkan uang harianku dari Abang cuma lima belas ribu. Kalau Abang dan Ibu mau makan juga, kalikan saja delapan belas ribu dengan tiga, totalnya lima puluh empat ribu. Itu untuk satu kali makan!” jelasku tanpa mundur meski hanya selangkah. “Uang makan saja lima belas ribu, tapi minta beli makanan enak tiap hari. Mimpi, Bang!”
Bang Agam terdiam sejenak. Keningnya yang bersih berkerut sampai alisnya hampir bertaut.