Kafan Hitam
“Dia teh orang gila.”
“Tapi tetap saja dia manusia, Za,” jawab Rojali tanpa menoleh.
Orang gila itu mundur hingga terjengkang. Kedua tangannya memukul-mukul perut. Wajahnya melirik Rojali sesaat, lalu kembali menunduk.
“Bapak lapar?” tanya Rojali lagi.
Orang gila itu mengangguk beberapa kali, kembali menoleh pada Rojali. “Tolong saya, tolong saya,” lirihnya nyaris tak terdengar.
Hot Chapters