Kubuang Suami Sampah Pada Tempatnya
“Lucu kamu, Ven. Bukannya kamu marah-marah dan mendiami Zaki? Bukannya kamu yang masih kesal sama suamimu sendiri? Giliran nggak diajak makan bareng, kok, malah ngambek? Venda, sikapmu kaya anak kecil. Ayolah, Ven. Sebagai menantu, seharusnya kamu pandai mencari hati ke mertua dan ipar. Aku sudah sampai mencium kakimu segala, nyatanya sikapmu masih juga sok. Ternyata, semakin dibujuk, kamu semakin melunjak. Aku angkat tangan sebagai mertuamu, Ven. Capek!”
Capek, dia bilang? Ya, ampun. Capekan mana dengan aku yang selama setahun ini jadi tulang punggung bagi anaknya? Banting tulang tanpa hitung-hitungan. Uang hasil jualan hanya bisa jadi modal dan dibuat membayar kebutuhan sehari-hari. Jangan
Chapitres populaires