Tiga Mayat Satu Takdir
Kini, tahu potensinya, pikirannya melayang ke sihir halusinasi dan kontrolnya—jika bisa dikompresi juga, kekuatannya akan melonjak.
Sophia melangkah mendekat, matanya merah menyala tipis, melempar bebola lendir biru—tiruan potion mana—ke Kael. “Pulihkan dulu,” katanya datar, tapi ada nada kagum di suaranya. Kael menelan bebola mana, energi sihirnya perlahan kembali, meski tubuhnya masih lelah.
Hot Chapters