Episode 3

Oh my god! Semua bangku sudah terisi oleh 41 siswa. Begitu aku masuk semua mata tertuju padaku. Mereka semua seperti sedang mengheningkan cipta tidak ada yang berbicara satupun. Aku melihat ke kanan dan kiri tidak ada tempat yang kosong,kecuali kursi yang beda sendiri dan paling belakang. Tempatnya pun sempit banget,karena terpaksa tidak ada tempat lagi.

"Ini tempat, ada orangnya enggak?"tanyaku agar tidak malu kalau ternyata itu tempatnya orang.

"Kayaknya enggak ada, aku juga baru datang. Udah duduk aja di situ!" jawab temanku.

"Oke, aku duduk bareng kamu ya." Akhirnya aku dapat tempat duduk lalu menyimpan tas dan mencoba mengeringkan seragamku yang basah.

Setelah berkenalan, aku jadi tahu temanku bernama Sasya. Baru berkenalan dia langsung bercerita,kalau dia datang persis sebelum aku datang. Jadi, intinya kita sama-sama malu datang terlambat ditambah baju yang basah.

Baru kenal hari ini, ternyata Sasya orangnya asyik juga di ajak ngobrol. Mungkin karena kita satu tipe, jadi nyambung obrolannya. Sepertinya di dalam kelas hanya aku dan Sasya yang mengeluarkan suara. Yang lainnya masih pada jaim dan diam-diam bae.

Ku lihat ke arah jendela ada guru yang lewat,aku pikir guru itu akan masuk kelas ini tapi ternyata cuma lewat saja. Setelahnya juga banyak guru-guru yang lewat tapi tidak ada satupun yang masuk kelas ini.

Waktu menunjukan pukul 08.30 belum ada guru yang masuk. Kalau gurunya tidak ada bisa mengheningkan cipta terus sampai pulang sekolah.

Ku lihat lagi ke arah jendela berharap ada guru yang lewat lagi. Setelah beberapa menit, nongol juga gurunya dan masuk kelasku.

"Ini kelas apa?"tanya guru tersebut. Semuanya hening tidak ada yang menjawab. Setelah beberapa detik ada yang memberanikan diri untuk menjawab.

"X IPA 1,Bu." 

"Walikelasnya belum datang?"guru tersebut bertanya lagi. Semuanya hening lagi,karena memang kita tidak ada yang tahu siapa walikelasnya. Kirain guru tersebut yang menjadi walikelas. Eh ternyata, beliau malah nanya walikelas kami.

"Oke, Ibu cek dulu ke kantor." Guru tersebut langsung pergi menuju kantor guru.

Setelah beberapa menit, guru itu datang lagi dan berkata," karena walikelas kalian sedang sakit dan tidak bisa ke sekolah hari ini ,jadi sementara Ibu yang akan mengisi kelas."

Alhamdulillah, akhirnya ada juga guru yang mau ngisi kelas kami. Agar tidak mengheningkan cipta sampai pulang sekolah.

Guru tersebut bernama Bu Rini. Beliau menjelaskan aturan-aturan di sekolah ini. Sebelum beliau menjelaskan, kami diperintahkan untuk memperkenalkan diri satu persatu. Tak lupa, kami juga diperintahkan untuk menyebutkan hobi.

Waduh! Hobi aku apa ya? Mau jawab hobi menulis, tapi enggak juga sih. Mau jawab hobi membaca, apalagi. Mau jawab hobi main badminton,bukan hobi itumah kalau mainnya lagi musim aja. Aha! Apa aku jawab hobi nyanyi aja kali ya? Soalnya aku suka nyanyi di kamar mandi. Karena di kamar mandi suaranya menggema,jadi suara aku jadi bagus. Eh tapi, kalau aku di suruh nyanyi bagaimana? Malu dong!

Karena aku duduk di paling belakang, jadi aku yang paling terakhir perkenalan. Aku memperhatikan teman-temanku saat perkenalan agar sedikit-sedikit tahu nama mereka. Ada beberapa temanku yang menyebutkan hobi menyanyi dan mereka di suruh nyanyi. Ada yang di suruh baca puisi juga. Tapi, yang hobi main bola tidak di suruh main bola.

Suara temanku yang bernyanyi sangat merdu,aku jadi minder kalau pas nanti aku maju le depan terus suaranya fals. Sepertinya, aku harus ganti hobinya jadi memancing, agar aku tidak di suruh memancing. Tapi,aku ingin menunjukan bakat suara aku kepada orang lain. Di masa putih abu-abu ini aku harus be brave and be different. Eeaa gaya banget pakai bahasa inggris. Hihihi.

Dan sekarang giliranku maju ke depan kelas. Aku menyebutkan nama,asal sekolah,alamat rumah dan yang terakhir hobi. Saat aku bilang, 'hobiku adalah bernyanyi' lalu Bu Rini bertepuk tangan dan diikuti oleh teman-temanku di kelas. Dalam hatiku berbicara,'kenapa aku enggak di suruh nyanyi? Padahal yang hobinya nyanyi semuanya di suruh nyanyi', aneh pikirku.

Akupun berjalan kembali menuju tempat dudukku. Belum sampai ke tempat duduk, Bu Rini memanggil aku.

"Eh! Tadi siapa namanya?"tanya bu Rini tangannya menujuk ke arahku.

"Saya,Bu?"tanyaku balik untuk meyakinkan bahwa aku yang di tanya.

"Iya,kamu," jawab Bu Rini masih menunjukku.

"Nama Saya Hani,Bu. Hani Adara Sunarsih,"jawabku.

"Hani balik lagi ke sini!"pinta Bu Rini. Aku deg-degan ada apa?

"Tadi kamu belum di suruh nyanyi. Ayo nyanyi dulu!"perintah Bu Rini. Aduh Ibu! Kenapa enggak dari tadi di suruh nyanyinya? Kalau kaya gini malunya jadi dobel,ucapku dalam hati.

Aku tarik nafas dalam-dalam tapi tidak dibuang dari belakang ya. Dan mulai bernyanyi.

"Meski ku bukan pertama. Di hatimu tapi,cintaku terbaik untukku. Meski, ku bukan bintag di la... ngit." Ya ampun, aku keseleo di nada tinggi. Karena pertamanya udah ketinggian nadanya. Semua teman-teman menertawakanku.

"Tapi, cintaku yang terbaik." Akupun langsung menlanjutkan liriknya,agar cepat selesai nyanyinya, dan cepat selesai juga malunya.

Semua bertepuk tangan dan tertawa saat aku selesai bernyanyi. Mau simpan di mana muka aku ini? Pasti aku akan diingat sama-sama teman-temanku karena suaranya fals. Biasanya, kejadian yang aneh dan lucu akan terus diingat.

Aku segera kembali ke tempat dudukku. Sasya menertawakanku sampai terbahak-bahak. Aku malu banget,mau nunjukin suara malah jadi seperti ini. Rasanya, besok enggak mau sekolah.

Aku merasa down banget,kapok. Enggak mau nyanyi lagi di depan umum. Pengalaman pertama yang menyakitkan buatku. Padahal suaraku enggak jelek-jelek amat meskipun enggak bagus juga.

Bu Rini melihat ekspresi wajahku yang sedikit cemberut. Beliau bilang sama aku di depan teman-teman. Katanya,'Hani semangat! Suara kamu bagus kok. Jangan malu karena yang tadi! Pokoknya kamu harus berlatih lagi!'. Kenapa Bu Rini membahas itu lagi sih? Di depan kelas pula. Bikin aku makin malu dan enggak percaya diri. Harusnya, bicara seperti itu jangan di depan kelas tapi face to face. Kalau seperti itu, malah bikin enggak semangat dan percaya diri. Bu Rini memberikan kesan pertama yang tidak enak buat aku, dan itu akan aku ingat sampai nanti.

***

Aku menceritakan kejadian itu pada mamahku, di rumah. Mamahku juga tertawa, tapi setelah itu beliau memberi motivasi kepadaku.

Sebelum tidur, aku sedang mengingat-ngingat kejadian tadi. Aku juga mengingat-ngingat wajah dan nama teman-temanku di kelas. Setelah aku mengingat, ternyata ada salah satu yang unik, berbeda dari yang lainnya. Bahasa dia saat berkenalan menggunakan bahasa indonesia yang baku banget. Sehingga, aku mendengarnya seperti lagi pidato. Dia tidak hanya menyebutkan hobinya saja, tapi menyebutkan juga perjalanan hobinya. Katanya,dulu hobi dia itu main game. Tapi sekarang dia jadi hobi membaca buku, karena banyak ilmu dari buku yang dia baca. Busyet! Bijak banget kata-katanya. Eh, by the way aku lupa namanya. Siapa ya?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status